Sekilas Info
Thursday, 25 Jul 2024
  • Untuk Trenggalek lebih baik

MENYELAMI KAJIAN POLITIK FRAGMATIS VERSUS POLITIK DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAM

Diterbitkan :

 

Politik, sebagai sebuah ranah yang sangat kompleks, sering kali menarik perhatian dari berbagai sudut pandang, termasuk perspektif psikologi Islam. Dalam bahasan  ini, kita akan menjelajahi perbedaan antara politik fragmatis dan politik dalam perspektif psikologi Islam, serta bagaimana pandangan ini dapat membentuk pemahaman yang lebih holistik tentang politik.

Politik fragmatis dapat dipahami sebagai pendekatan politik yang cenderung terfokus pada kepentingan individu atau kelompok tertentu tanpa memperhatikan kepentingan umum atau kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Dalam politik fragmatis, tujuan utama adalah memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, sering kali melalui taktik yang opportunistik dan tidak bertanggung jawab. Dalam konteks ini, psikologi politik dapat memberikan wawasan tentang motivasi individu atau kelompok dalam mengejar kekuasaan, termasuk faktor-faktor psikologis seperti ambisi, kekuatan, dan kepuasan pribadi.

Salah satu tokoh yang terkait dengan teori politik fragmatis adalah Giovanni Sartori. Meskipun Sartori lebih terkenal dengan kontribusinya dalam bidang ilmu politik secara umum, namun beberapa konsep yang dia kemukakan juga relevan dalam memahami politik fragmatis. Dalam karyanya yang terkenal, “Partai dan Sistem Partai: Sebuah Studi Tentang Ilmu Politik”, Sartori membahas tentang fragmentasi politik, terutama dalam konteks sistem multipartai. Ia menyoroti bagaimana sistem multipartai yang kompleks dapat menghasilkan politik yang fragmatis, di mana partai-partai politik bersaing untuk mendapatkan dukungan dan kekuasaan tanpa adanya kesatuan atau konsensus yang kuat di antara mereka. Sartori juga menekankan pentingnya koalisi dan aliansi politik yang seringkali labil dan tidak stabil dalam konteks politik yang fragmatis.

Meskipun Sartori tidak secara eksplisit membahas politik fragmatis dalam karyanya, namun konsep-konsep yang ia kemukakan memberikan landasan yang relevan untuk memahami dinamika politik yang terfragmentasi. Ide-idenya tentang sistem multipartai, koalisi politik, dan dinamika persaingan politik dapat memberikan wawasan yang berharga dalam memahami politik fragmatis dalam konteks sistem politik modern.

Dalam perspektif psikologi Islam, politik dipandang sebagai instrumen untuk mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan umat, dan keharmonisan dalam masyarakat. Prinsip-prinsip Islam mengajarkan pentingnya kepemimpinan yang adil, berpikir luas, dan bertanggung jawab dalam mengelola urusan publik. Dalam konteks ini, psikologi Islam menyoroti nilai-nilai seperti kesabaran, kejujuran, dan ketulusan dalam berpolitik.

Ada beberapa ayat Al-Quran yang memberikan pandangan tentang politik dalam perspektif Islam. Meskipun Al-Quran bukanlah sebuah buku politik secara langsung, tetapi prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya memberikan arahan yang relevan bagi pemimpin dan masyarakat dalam konteks politik. Berikut adalah beberapa ayat Al-Quran yang mengkaji politik secara Islam:

  1. Surah Al-Baqarah (2:30): “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (seorang khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, sedangkan kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menugaskan manusia sebagai khalifah di bumi, yang menunjukkan tanggung jawab manusia untuk memelihara dan mengelola bumi ini dengan baik. Hal ini memberikan dasar bagi konsep kepemimpinan yang bertanggung jawab dan adil dalam politik Islam.

  1. Surah Ash-Shura (42:38): “Dan orang-orang yang memberikan jawab terhadap seruan Tuhan mereka, mendirikan shalat, dan urusan mereka (adalah) sesuai dengan musyawarah di antara mereka, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Ayat ini menekankan pentingnya musyawarah (berdiskusi) dalam urusan masyarakat. Dalam konteks politik, musyawarah menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang partisipatif dan konsultatif, di mana pemimpin mengambil keputusan berdasarkan kesepakatan bersama dan memperhatikan pendapat rakyat.

  1. Surah An-Nisa (4:58): “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat baik, dan memberi kepada kaum kerabat; dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu supaya kamu mengambil pelajaran.”

Ayat ini menegaskan prinsip-prinsip yang harus menjadi dasar dalam politik Islam, yaitu keadilan, kebaikan, dan kedermawanan. Pemimpin dalam politik Islam diharapkan untuk mengutamakan kepentingan umum, memerangi kezaliman, dan mempromosikan kebaikan serta perdamaian dalam masyarakat.

Ayat-ayat ini hanya beberapa contoh dari banyak ayat Al-Quran yang memberikan pandangan tentang politik dalam Islam. Secara keseluruhan, Al-Quran menekankan pentingnya kepemimpinan yang adil, musyawarah dalam pengambilan keputusan, dan pelayanan kepada umat sebagai prinsip dasar dalam politik Islam.

Perbandingan antara politik fragmatis dan politik dalam perspektif psikologi Islam mengungkapkan perbedaan mendasar dalam orientasi dan tujuan politik. Politik fragmatis cenderung melihat politik sebagai alat untuk mencapai kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, sementara politik dalam perspektif psikologi Islam menekankan pentingnya memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan umat secara keseluruhan.

Politik fragmatis dalam era modern memiliki berbagai implikasi negatif, termasuk meningkatnya ketidakstabilan politik, ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi politik, dan terganggunya proses demokrasi. Ketika politik dipandang semata-mata sebagai alat untuk mencapai kepentingan pribadi atau kelompok, maka kebutuhan dan kepentingan masyarakat secara keseluruhan sering kali terabaikan. Hal ini dapat mengakibatkan ketidakadilan sosial, korupsi, dan ketidaksetaraan yang semakin merajalela.

Politik dalam perspektif psikologi Islam menekankan pentingnya menciptakan sistem politik yang berlandaskan pada nilai-nilai moral dan etika Islam, seperti keadilan, kejujuran, dan keberpihakan kepada umat. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini, diharapkan politik dapat menjadi sarana yang efektif untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan umat, sesuai dengan ajaran Islam yang mendorong perdamaian dan kemakmuran bagi semua.

Dalam praktiknya, pemahaman tentang politik dalam perspektif psikologi Islam dapat membantu mengarahkan tindakan politik ke arah yang lebih bermakna dan berkelanjutan. Hal ini melibatkan penerapan prinsip-prinsip Islam seperti keadilan, kebijaksanaan, dan kerelaan untuk berkorban demi kepentingan umat.

Kajian diatas memberikan wawasan yang berharga tentang politik fragmatis dan politik dalam perspektif psikologi Islam. Dengan memahami perbedaan dan implikasi dari kedua pendekatan ini, diharapkan kita dapat memperkuat komitmen kita untuk membangun sistem politik yang lebih adil, berkelanjutan, dan berlandaskan pada nilai-nilai moral dan etika, sesuai dengan ajaran Islam yang mendorong perdamaian dan kemakmuran bagi semua.

 

Oleh Rizky Sembada S.E.,M.M.,M.Psi

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar